Kali ini aku pingin membuat vest. Pastilah harus mencontoh pola dari buku. Tanpanya aku tidak punya gagasan apa pun bagaimana cara membuatnya.
Kali ini, tertantang untuk membuat vest yang benar-benar sesuai dengan ukuran tubuh seseorang. Tidak sekedar mengikuti pola.
Dan teman anakku yang bertubuh mungil ini minta dibuatkan vest... "ok" langsung kutanggapi dengan senang hati.
Setelah memilih model, akupun menyiapkan benang dan mulai bekerja.
Satu persatu bunga warna hijau aku buat terlebih dahulu. setelah selesai 12 buah, aku merangkainya melingkar, untuk melihat dan memperkirakan berapa panjang lingakarannya nanti.
Aku terkejut "lhoh...kok buat aku aja kegedean... wah gawat...! teman anakku ini mungil, bisa kedodoran nih nanti jadinya".
Akhirnya, aku minta ukurannya tubuhnya, untuk memastikan sekali lagi.
Hadeeew... jangankan 12 bunga, 10 bungapun ternyata masih terlalu besar. Kalau aku turunkan 8 bunga, jadinya kekecilan. Padahal hitungannya harus genap.
Mau tidak mau, ukuran yang tepat adalah 9 bunga, ganjil.... waduuuh... perlu pemikiran khusus untuk membuat model vest ini bisa terbentuk.
Setelah beberapa kali di bongkar. Dipasang dan diukur lagi.. akhirnya aku menemukan pola yang tepat hingga vest bisa terbentuk dengan sempurna.... senangnya....
Ternyata, untuk membuat sesuatu yang sempurna, diperlukan ketekunan, mau belajar dan tidak berhenti sebelum selesai....
Semoga hasil karya ini mempercantik teman anakku di hari Lebaran nanti.
Minggu, 22 Juli 2012
Senin, 04 Juli 2011
Taplak Awan
Kebebasan untuk memilih, bisa dibuat sulit, tapi juga bisa dibuat dengan menyenangkan. Asal ada niat baik dan keinginan untuk memberikan yang terbaik. Keputusan yang dibuat mesti diwarnai kegembiraan hati, baik dalam memilih motif, warna, dan menentukan jenis benangnya.
Dalam hidup, memilih dan memutuskan, kita tentukan puluhan kali setiap hari. Kadang kita sadar betul dengan resiko yang akan terjadi. Kadang sekedar mengikuti hati nurani, diikuti kepasrahan akan apa yang akan terjadi nanti. Apapun itu, niat baiklah yang menjadi landasan utama. Walaupun niat baik belum tentu memberikan hasil seperti yang kita inginkan... mungkin butuh waktu dan kesabaran untuk menuainya nanti.
Permenungan lain yang muncul adalah saat aku berupaya sungguh untuk membuat taplakku kali ini lebih baik dari yang pertama. Bukankah kita harus belajar dari pengalaman, yang akan membuat hidup kita menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Saat merenda... anakku ada di sebelahku, menunggu waktu berangkat kerja praktek. Saat itu aku mengeluh “Haduh.. kok mesti ada yang salah ya... padahal sudah diteliti satu-satu, kayaknya semua beres...” Anakku menjawab enteng, “..kan memang begitu, Ma...”... Maksudmu??? Biasaaaaa... emaknya ini emang suka gak ngerti maksudnya. “Lha iya... namanya handmade pasti nggak sempurna, dan justru itu yang mahal. Kalau sempurna kan justru buatan pabrik, dan anehnya itu malah murah!” Ya ampun... bocah cilik kok bijaksana... Jelas AKU mentertawakanku... “Nah lho... kalah sama anaknya...”
AKU mengingatkanku akan satu hal, tentang ketidaksempurnaan. Seringkali kita tergoda untuk ingin menjadi sempurna. Menjadi yang terbaik. Dikagumi dan dipuji banyak orang. Mengejar kesempurnaan yang tidak mungkin sempurna. Lelah dan putus asa. Buat apa??? Bukankah ketidaksempurnaan justru membuat kita masing-masing unik dan di mata Tuhan hal itu amat berharga. Lebih berharga dari pada kalau berusaha dan berupaya setengah mati untuk meniru atau bahkan menjadi sama dengan orang lain. Memasang berbagai macam topeng, supaya terhindar dari berbagai persoalan... tapi tidak menyelesaikannya... Hingga akhirnya lupa dengan wajahnya sendiri dan muncul pertanyaan yang sulit dijawab “aku ini siapa???” apa adanya di hadapanNya... mau disembunyikan ya Dia tahu. Dan ini menantang keberanian kita untuk menghadapi dan menerima pendapat orang lain tentang diri kita.
AKU bisik-bisik... jadilah dirimu sendiri... Kekurangan itu lumrah.. justru itulah karyaNya... tanganNya sendiri yang merenda hidupku... Menerima kekurangan diri dengan tulus justru membuat kita lebih berharga di mata Tuhan. Karena Dia memang menciptakan kita unik, tidak ada yang sama. Yang sama hanya satu... hati yang dipenuhi kasihNya... dan ini indah luar biasa ketika kita bisa memadukan kasih yang ada di hati setiap orang.
Minggu, 03 Juli 2011
Dua Kancing
Tantangan
itu selalu menggairahkan. Setelah beberapa kali membuat taplak renda,
kali ini ada yang memesan coat renda. Setelah ada kesepakatan warna,
akhirnya aku bisa dengan mudah menemukan jenis benangnya. Baru kemudian
aku mencari pola dan motif yang cocok.Untung yang memesan gak banyak permintaan "manut-manut wae... terserah.. percaya deh.. pasti bagus". Nah yang seperti ini malah sering membuatku ingin memberikan yang terbaik, yang mampu kubuat.
Dan mulailah aku merenda... rantai demi rantai hingga akhirnya.. selesai juga, tinggal membuat lingkaran di sekeliling untuk menempatkan kancing.
Dalam pikiranku, kancing itu harus besar dengan warna yang sesuai dan aku cuma butuh 2 buah. Iseng, aku nyoba ke toko dekat rumah yang jual peralatan jahit menjahit. Pesimis sih.. karena yang aku inginkan kancing besar yang di bungkus kain.... benar saja... nggak ada!!. sedih juga... trus nyari kemana ya...
sepertinya sederhana tapi ya susah juga. Karena aku mesti beli kancing dulu, terus beli kain dengan warna yang sesuai, kemudian baru di bungkus... repot sekali...
Akhirnya, kubiarkan saja dulu... beberapa hari.. sambil memikirkan bagaimana baiknya. Hingga suatu hari, aku iseng membuka beberapa doos yang menyimpan kotak-kotak berisi bahan-bahan untuk membuat kerajinan. Dan tiba-tiba aku melihat kancing besar dibalut kain warna merah marun, persis coat rendaku... kok bisa??? dan ketika aku dengan penasaran membuka kotak lebih dalam lagi, aku melihat satu buah kancing yang sama... dan ternyata di kotak itu hanya ada 2. Persis seperti yang aku butuhkan.... lagi-lagi aku heran.... kok bisa???
Dengan sukacita aku segera menyelesaikan coat rendaku. dan kedua kancing itu dengan cantik terpasang disana....
Aku sudah lupa, kapan aku meletakkan dua kancing berwarna merah marun itu di kotak kerajinan tanganku. Aku hanya menyadari sesuatu, bahwa tidak ada yang sia-sia. Semua yang kita lakukan di masa lalu memiliki benang merah dan mata rantai yang berkaitan dalam kehidupan kita sekarang. Mungkin waktu itu, aku meletakkan 2 kancing dalam kotak, pasti tanpa tujuan yang jelas. Sekedar menyimpannya. Tapi siapa sangka akan berguna, di kemudian hari..ketika aku sangat membutuhkannya.
Kadang aku merasa telah membuat keputusan yang salah, mengambil langkah yang keliru, melakukan hal-hal yang sia-sia...Menemukan dua kancing merah marun itu, membuat aku menyadari bahwa tidak ada kesia-siaan dalam hidup ini. Sepertinya, semua sudah tergaris seperti itu, kita tinggal menjalaninya saja. Keyakinan bahwa suatu saat pasti akan berguna, hanya setitik iman yang memberi kekuatan yang luar biasa untuk menerima segala sesuatu dengan lebih ikhlas.
Coat rendaku sudah selesai kubuat dan kuberikan kepada sahabat SMP ku yang cantik. Sebuah mata rantai yang indah, ketika kami dipertemukan lagi setelah hampir 40 tahun. Apakah ini kebetulan??? bagiku tidak!!. Semua memang sudah direncanakanNya. Suatu hari nanti... coat renda inipun, akan memberikan makna tersendiri dalam kehidupannya, dan juga kehidupanku. Seperti apa?? kami tidak pernah tahu.. seperti dulu kami tidak pernah tahu, apa arti persahabatan ini... ketika kami hanya dua orang gadis kecil yang menginjak remaja...
Rabu, 09 Februari 2011
Renda Hidup
Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan retret pribadi. Dialog indah antara aku (Lilik) dan AKU (hati nuraniku)...
Sengaja
ingin menarik diri, dari kegiatan dan pikiran duniawi, untuk masuk ke
alam rohani, mencari jawaban atas berbagai hal kehidupan kepada AKU.
Sambil merenda aku mencari waktu untuk sendiri dan bersatu dengan AKU.
Sementara jari-jari menari dengan hakpen dan benang, aku bertanya
kepada AKU... “Sudah sejauh mana dan sampai dimana sebetulnya aku
menjalani hidupku?” dan AKU menjawab melalui pengalaman merenda taplak
bulat berdiameter 2 meter.
Berpuluh tahun yang lalu aku belajar merenda dari almarhum ibuku. Baru beberapa bulan lalu, keterampilan ini kuasah lagi ketika menginap di rumah kakakku selama 3 hari. Hasil karya pertamaku adalah kantong HP untuk anakku.
Taplak ini, adalah karya keduaku. Dorongan dari seorang teman yang ngotot minta dibuatkan taplak yang berdiameter 2 meter membuatku terpana... Kok bisa dia begitu percaya padaku? Padahal aku dengan sembarangan bilang “Ya sudah nanti saya buatkan, harganya sejuta mau?” Dengan ringan dia bilang “Mau mbak!!”... Wah ringan sekali jawabannya, membuat aku bersemangat menyelesaikannya.Kepercayaannya ini membuatku bertekad untuk membuatkannya. Kebetulan dia juga orangnya sangat santai “Yang simple aja mbak...” Pas banget!, karena aku juga ingin membuat motif yang jelas bisa aku buat. Sederhana tapi indah.
Sejak awal April aku mulai merendanya...Setelah memutuskan motif apa yang aku buat, aku mulai membuat rantai pertama dan berniat menyelesaikannya. AKU, memberikan jawaban melalui keputusan ini. Bahwa dalam hidup kita harus membuat pilihan dan dengan kebulatan tekad memulainya. Dengan perasaan yang menggelora aku memulai dan merasa exciting setiap kali aku berhasil membuatnya, persis seperti pola yang aku pilih.
Karena begitu banyak aktivitas lain yang harus aku kerjakan, hal ini membuat aku sering tidak fokus. Kesana-kemari dan kembali merenda. Hingga pada diameter 60 cm, aku membuat kesalahan fatal. Motifnya tidak bisa dibuat melingkar dengan sempurna. Kenapa???... Dengan sedih, terpaksa aku melepas ikatan motif satu lingkaran dan memulainya lagi... hasilnya... tetap salah!! Akhirnya aku berhenti dan membiarkan renda terhenti prosesnya untuk beberapa hari. Baru setelahnya, aku melihat kekeliruan fatal... salah hitung!! Harusnya dibagi 4 ternyata kubagi 3...AKU, mengingatkanku bahwa dalam hidup yang kupilih, aku bisa saja melakukan kesalahan. Di saat itulah aku harus berhenti dulu, melihat dan mencari dimana kesalahannya, baru memulainya lagi. Tanpa membuat perbaikan, kesalahan akan menjadikan kesalahan baru yang nantinya dapat membuat hasilnya semakin parah. Memulainya lagi, membutuhkan kesediaan diri untuk diperbaiki. Pasti tidak semudah aku melepas ikatan renda dan memulai lagi. Hanya dengan kerendahan hati kita bisa dan mampu mengakui kesalahan dan mau membuat perbaikan... walaupun seringkali hal ini tidak mudah dalam kehidupan kita.
Kesalahan merenda pada diameter 60 cm membuat aku lebih berhati-hati.
Setiap membuat motif baru, aku dengan teliti menghitung dan memperkirakan ketepatannya dengan sempurna. Karena semakin besar diameternya, semakin besar pula lingkarannya. Kesalahan di posisi ini pasti akan sangat menjengkelkan, karena perbaikannya semakin banyak. Walaupun begitu, ternyata masih ada kesalahan-kesalahan kecil yang terjadi. Dan itu kadang baru aku sadari kemudian, setelah lingkaran semakin besar dan besar. Tapi kesalahan tersebut tidak mengganggu motif yang aku buat. AKU, mengajarkanku untuk melihat kehidupanku yang tidak sempurna. Walaupun sudah direncanakan dengan baik dan diupayakan dengan segala kemampuan. Bagaimanapun aku harus menerima ketidaksempurnaan ini dengan hati lapang. Setiap kesalahan kecil dalam kehidupan kita, apabila disadari dan diakui, tidak akan terlalu menjadi beban di hati. Kesalahan-kesalahan kecil justru akan mendekatkan kita denganNya. Dan AKU mengajarkan aku untuk berdoa. Doa sederhana untuk rendaku dan teman cantikku yang memberi kepercayaan padaku untuk menciptakannya. “Semoga taplak ini, bisa mempercantik rumahnya, secantik paras pemiliknya...”
Ketika diameter rendaku mencapai 170 cm, tantangan terakhir adalah ketekunan dan kesabaran. Keinginan untuk segera menyelesaikan, justru sering menimbulkan kesalahan-kesalahan kecil, yang bila diabaikan akan menimbulkan dampak yang tak terduga. Maka aku mencoba bersabar dan bertekun terus. Tetap waspada pada setiap rantai yang kubuat. Menghitung kembali sebelum membuat langkah lebih jauh lagi.AKU berbisik dengan gembira di hatiku. Aku mulai mengerti sekarang... bahwa semakin banyak usia yang sudah diberikanNya padaku, yang kuperlukan sekarang ini adalah kesabaran dan ketekukan. Tujuan hidupku semakin dekat dari hari ke hari. Kesabaran dan ketekunan harus dipertahankan supaya aku bisa menyelesaikan renda hidupku dengan baik.
Walaupun tidak sempurna...Taplak rendaku, sudah kukunci tepat 40 hari sejak aku memulainya. Tinggal sedikit sentuhan, untuk membuatnya pantas kupersembahkan. AKU, berbisik penuh kasih... ada saatnya, renda hidupku juga selesai. Semoga aku pantas pula mempersembahkan hidupku ini kepadaNya, tanpa rasa malu karena ketidaksempurnaanku, tanpa rasa khawatir karena ditolak, karena aku yakin, kasih dan pengampunanNya sangat sempurna dan indah.
(Terinspirasi oleh seorang sahabat... yang mengajarkanku tentang Determination-Decision-Devotion... Thanks to you)
Sengaja
ingin menarik diri, dari kegiatan dan pikiran duniawi, untuk masuk ke
alam rohani, mencari jawaban atas berbagai hal kehidupan kepada AKU.
Sambil merenda aku mencari waktu untuk sendiri dan bersatu dengan AKU.
Sementara jari-jari menari dengan hakpen dan benang, aku bertanya
kepada AKU... “Sudah sejauh mana dan sampai dimana sebetulnya aku
menjalani hidupku?” dan AKU menjawab melalui pengalaman merenda taplak
bulat berdiameter 2 meter.Berpuluh tahun yang lalu aku belajar merenda dari almarhum ibuku. Baru beberapa bulan lalu, keterampilan ini kuasah lagi ketika menginap di rumah kakakku selama 3 hari. Hasil karya pertamaku adalah kantong HP untuk anakku.
Taplak ini, adalah karya keduaku. Dorongan dari seorang teman yang ngotot minta dibuatkan taplak yang berdiameter 2 meter membuatku terpana... Kok bisa dia begitu percaya padaku? Padahal aku dengan sembarangan bilang “Ya sudah nanti saya buatkan, harganya sejuta mau?” Dengan ringan dia bilang “Mau mbak!!”... Wah ringan sekali jawabannya, membuat aku bersemangat menyelesaikannya.Kepercayaannya ini membuatku bertekad untuk membuatkannya. Kebetulan dia juga orangnya sangat santai “Yang simple aja mbak...” Pas banget!, karena aku juga ingin membuat motif yang jelas bisa aku buat. Sederhana tapi indah.
Sejak awal April aku mulai merendanya...Setelah memutuskan motif apa yang aku buat, aku mulai membuat rantai pertama dan berniat menyelesaikannya. AKU, memberikan jawaban melalui keputusan ini. Bahwa dalam hidup kita harus membuat pilihan dan dengan kebulatan tekad memulainya. Dengan perasaan yang menggelora aku memulai dan merasa exciting setiap kali aku berhasil membuatnya, persis seperti pola yang aku pilih.
Karena begitu banyak aktivitas lain yang harus aku kerjakan, hal ini membuat aku sering tidak fokus. Kesana-kemari dan kembali merenda. Hingga pada diameter 60 cm, aku membuat kesalahan fatal. Motifnya tidak bisa dibuat melingkar dengan sempurna. Kenapa???... Dengan sedih, terpaksa aku melepas ikatan motif satu lingkaran dan memulainya lagi... hasilnya... tetap salah!! Akhirnya aku berhenti dan membiarkan renda terhenti prosesnya untuk beberapa hari. Baru setelahnya, aku melihat kekeliruan fatal... salah hitung!! Harusnya dibagi 4 ternyata kubagi 3...AKU, mengingatkanku bahwa dalam hidup yang kupilih, aku bisa saja melakukan kesalahan. Di saat itulah aku harus berhenti dulu, melihat dan mencari dimana kesalahannya, baru memulainya lagi. Tanpa membuat perbaikan, kesalahan akan menjadikan kesalahan baru yang nantinya dapat membuat hasilnya semakin parah. Memulainya lagi, membutuhkan kesediaan diri untuk diperbaiki. Pasti tidak semudah aku melepas ikatan renda dan memulai lagi. Hanya dengan kerendahan hati kita bisa dan mampu mengakui kesalahan dan mau membuat perbaikan... walaupun seringkali hal ini tidak mudah dalam kehidupan kita.
Kesalahan merenda pada diameter 60 cm membuat aku lebih berhati-hati.
Setiap membuat motif baru, aku dengan teliti menghitung dan memperkirakan ketepatannya dengan sempurna. Karena semakin besar diameternya, semakin besar pula lingkarannya. Kesalahan di posisi ini pasti akan sangat menjengkelkan, karena perbaikannya semakin banyak. Walaupun begitu, ternyata masih ada kesalahan-kesalahan kecil yang terjadi. Dan itu kadang baru aku sadari kemudian, setelah lingkaran semakin besar dan besar. Tapi kesalahan tersebut tidak mengganggu motif yang aku buat. AKU, mengajarkanku untuk melihat kehidupanku yang tidak sempurna. Walaupun sudah direncanakan dengan baik dan diupayakan dengan segala kemampuan. Bagaimanapun aku harus menerima ketidaksempurnaan ini dengan hati lapang. Setiap kesalahan kecil dalam kehidupan kita, apabila disadari dan diakui, tidak akan terlalu menjadi beban di hati. Kesalahan-kesalahan kecil justru akan mendekatkan kita denganNya. Dan AKU mengajarkan aku untuk berdoa. Doa sederhana untuk rendaku dan teman cantikku yang memberi kepercayaan padaku untuk menciptakannya. “Semoga taplak ini, bisa mempercantik rumahnya, secantik paras pemiliknya...”
Ketika diameter rendaku mencapai 170 cm, tantangan terakhir adalah ketekunan dan kesabaran. Keinginan untuk segera menyelesaikan, justru sering menimbulkan kesalahan-kesalahan kecil, yang bila diabaikan akan menimbulkan dampak yang tak terduga. Maka aku mencoba bersabar dan bertekun terus. Tetap waspada pada setiap rantai yang kubuat. Menghitung kembali sebelum membuat langkah lebih jauh lagi.AKU berbisik dengan gembira di hatiku. Aku mulai mengerti sekarang... bahwa semakin banyak usia yang sudah diberikanNya padaku, yang kuperlukan sekarang ini adalah kesabaran dan ketekukan. Tujuan hidupku semakin dekat dari hari ke hari. Kesabaran dan ketekunan harus dipertahankan supaya aku bisa menyelesaikan renda hidupku dengan baik.
Walaupun tidak sempurna...Taplak rendaku, sudah kukunci tepat 40 hari sejak aku memulainya. Tinggal sedikit sentuhan, untuk membuatnya pantas kupersembahkan. AKU, berbisik penuh kasih... ada saatnya, renda hidupku juga selesai. Semoga aku pantas pula mempersembahkan hidupku ini kepadaNya, tanpa rasa malu karena ketidaksempurnaanku, tanpa rasa khawatir karena ditolak, karena aku yakin, kasih dan pengampunanNya sangat sempurna dan indah.
(Terinspirasi oleh seorang sahabat... yang mengajarkanku tentang Determination-Decision-Devotion... Thanks to you)
Langganan:
Postingan (Atom)

