Kebebasan untuk memilih, bisa dibuat sulit, tapi juga bisa dibuat dengan menyenangkan. Asal ada niat baik dan keinginan untuk memberikan yang terbaik. Keputusan yang dibuat mesti diwarnai kegembiraan hati, baik dalam memilih motif, warna, dan menentukan jenis benangnya.
Dalam hidup, memilih dan memutuskan, kita tentukan puluhan kali setiap hari. Kadang kita sadar betul dengan resiko yang akan terjadi. Kadang sekedar mengikuti hati nurani, diikuti kepasrahan akan apa yang akan terjadi nanti. Apapun itu, niat baiklah yang menjadi landasan utama. Walaupun niat baik belum tentu memberikan hasil seperti yang kita inginkan... mungkin butuh waktu dan kesabaran untuk menuainya nanti.
Permenungan lain yang muncul adalah saat aku berupaya sungguh untuk membuat taplakku kali ini lebih baik dari yang pertama. Bukankah kita harus belajar dari pengalaman, yang akan membuat hidup kita menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Saat merenda... anakku ada di sebelahku, menunggu waktu berangkat kerja praktek. Saat itu aku mengeluh “Haduh.. kok mesti ada yang salah ya... padahal sudah diteliti satu-satu, kayaknya semua beres...” Anakku menjawab enteng, “..kan memang begitu, Ma...”... Maksudmu??? Biasaaaaa... emaknya ini emang suka gak ngerti maksudnya. “Lha iya... namanya handmade pasti nggak sempurna, dan justru itu yang mahal. Kalau sempurna kan justru buatan pabrik, dan anehnya itu malah murah!” Ya ampun... bocah cilik kok bijaksana... Jelas AKU mentertawakanku... “Nah lho... kalah sama anaknya...”
AKU mengingatkanku akan satu hal, tentang ketidaksempurnaan. Seringkali kita tergoda untuk ingin menjadi sempurna. Menjadi yang terbaik. Dikagumi dan dipuji banyak orang. Mengejar kesempurnaan yang tidak mungkin sempurna. Lelah dan putus asa. Buat apa??? Bukankah ketidaksempurnaan justru membuat kita masing-masing unik dan di mata Tuhan hal itu amat berharga. Lebih berharga dari pada kalau berusaha dan berupaya setengah mati untuk meniru atau bahkan menjadi sama dengan orang lain. Memasang berbagai macam topeng, supaya terhindar dari berbagai persoalan... tapi tidak menyelesaikannya... Hingga akhirnya lupa dengan wajahnya sendiri dan muncul pertanyaan yang sulit dijawab “aku ini siapa???” apa adanya di hadapanNya... mau disembunyikan ya Dia tahu. Dan ini menantang keberanian kita untuk menghadapi dan menerima pendapat orang lain tentang diri kita.
AKU bisik-bisik... jadilah dirimu sendiri... Kekurangan itu lumrah.. justru itulah karyaNya... tanganNya sendiri yang merenda hidupku... Menerima kekurangan diri dengan tulus justru membuat kita lebih berharga di mata Tuhan. Karena Dia memang menciptakan kita unik, tidak ada yang sama. Yang sama hanya satu... hati yang dipenuhi kasihNya... dan ini indah luar biasa ketika kita bisa memadukan kasih yang ada di hati setiap orang.


