Sengaja
ingin menarik diri, dari kegiatan dan pikiran duniawi, untuk masuk ke
alam rohani, mencari jawaban atas berbagai hal kehidupan kepada AKU.
Sambil merenda aku mencari waktu untuk sendiri dan bersatu dengan AKU.
Sementara jari-jari menari dengan hakpen dan benang, aku bertanya
kepada AKU... “Sudah sejauh mana dan sampai dimana sebetulnya aku
menjalani hidupku?” dan AKU menjawab melalui pengalaman merenda taplak
bulat berdiameter 2 meter.Berpuluh tahun yang lalu aku belajar merenda dari almarhum ibuku. Baru beberapa bulan lalu, keterampilan ini kuasah lagi ketika menginap di rumah kakakku selama 3 hari. Hasil karya pertamaku adalah kantong HP untuk anakku.
Taplak ini, adalah karya keduaku. Dorongan dari seorang teman yang ngotot minta dibuatkan taplak yang berdiameter 2 meter membuatku terpana... Kok bisa dia begitu percaya padaku? Padahal aku dengan sembarangan bilang “Ya sudah nanti saya buatkan, harganya sejuta mau?” Dengan ringan dia bilang “Mau mbak!!”... Wah ringan sekali jawabannya, membuat aku bersemangat menyelesaikannya.Kepercayaannya ini membuatku bertekad untuk membuatkannya. Kebetulan dia juga orangnya sangat santai “Yang simple aja mbak...” Pas banget!, karena aku juga ingin membuat motif yang jelas bisa aku buat. Sederhana tapi indah.
Sejak awal April aku mulai merendanya...Setelah memutuskan motif apa yang aku buat, aku mulai membuat rantai pertama dan berniat menyelesaikannya. AKU, memberikan jawaban melalui keputusan ini. Bahwa dalam hidup kita harus membuat pilihan dan dengan kebulatan tekad memulainya. Dengan perasaan yang menggelora aku memulai dan merasa exciting setiap kali aku berhasil membuatnya, persis seperti pola yang aku pilih.
Karena begitu banyak aktivitas lain yang harus aku kerjakan, hal ini membuat aku sering tidak fokus. Kesana-kemari dan kembali merenda. Hingga pada diameter 60 cm, aku membuat kesalahan fatal. Motifnya tidak bisa dibuat melingkar dengan sempurna. Kenapa???... Dengan sedih, terpaksa aku melepas ikatan motif satu lingkaran dan memulainya lagi... hasilnya... tetap salah!! Akhirnya aku berhenti dan membiarkan renda terhenti prosesnya untuk beberapa hari. Baru setelahnya, aku melihat kekeliruan fatal... salah hitung!! Harusnya dibagi 4 ternyata kubagi 3...AKU, mengingatkanku bahwa dalam hidup yang kupilih, aku bisa saja melakukan kesalahan. Di saat itulah aku harus berhenti dulu, melihat dan mencari dimana kesalahannya, baru memulainya lagi. Tanpa membuat perbaikan, kesalahan akan menjadikan kesalahan baru yang nantinya dapat membuat hasilnya semakin parah. Memulainya lagi, membutuhkan kesediaan diri untuk diperbaiki. Pasti tidak semudah aku melepas ikatan renda dan memulai lagi. Hanya dengan kerendahan hati kita bisa dan mampu mengakui kesalahan dan mau membuat perbaikan... walaupun seringkali hal ini tidak mudah dalam kehidupan kita.
Kesalahan merenda pada diameter 60 cm membuat aku lebih berhati-hati.
Setiap membuat motif baru, aku dengan teliti menghitung dan memperkirakan ketepatannya dengan sempurna. Karena semakin besar diameternya, semakin besar pula lingkarannya. Kesalahan di posisi ini pasti akan sangat menjengkelkan, karena perbaikannya semakin banyak. Walaupun begitu, ternyata masih ada kesalahan-kesalahan kecil yang terjadi. Dan itu kadang baru aku sadari kemudian, setelah lingkaran semakin besar dan besar. Tapi kesalahan tersebut tidak mengganggu motif yang aku buat. AKU, mengajarkanku untuk melihat kehidupanku yang tidak sempurna. Walaupun sudah direncanakan dengan baik dan diupayakan dengan segala kemampuan. Bagaimanapun aku harus menerima ketidaksempurnaan ini dengan hati lapang. Setiap kesalahan kecil dalam kehidupan kita, apabila disadari dan diakui, tidak akan terlalu menjadi beban di hati. Kesalahan-kesalahan kecil justru akan mendekatkan kita denganNya. Dan AKU mengajarkan aku untuk berdoa. Doa sederhana untuk rendaku dan teman cantikku yang memberi kepercayaan padaku untuk menciptakannya. “Semoga taplak ini, bisa mempercantik rumahnya, secantik paras pemiliknya...”
Ketika diameter rendaku mencapai 170 cm, tantangan terakhir adalah ketekunan dan kesabaran. Keinginan untuk segera menyelesaikan, justru sering menimbulkan kesalahan-kesalahan kecil, yang bila diabaikan akan menimbulkan dampak yang tak terduga. Maka aku mencoba bersabar dan bertekun terus. Tetap waspada pada setiap rantai yang kubuat. Menghitung kembali sebelum membuat langkah lebih jauh lagi.AKU berbisik dengan gembira di hatiku. Aku mulai mengerti sekarang... bahwa semakin banyak usia yang sudah diberikanNya padaku, yang kuperlukan sekarang ini adalah kesabaran dan ketekukan. Tujuan hidupku semakin dekat dari hari ke hari. Kesabaran dan ketekunan harus dipertahankan supaya aku bisa menyelesaikan renda hidupku dengan baik.
Walaupun tidak sempurna...Taplak rendaku, sudah kukunci tepat 40 hari sejak aku memulainya. Tinggal sedikit sentuhan, untuk membuatnya pantas kupersembahkan. AKU, berbisik penuh kasih... ada saatnya, renda hidupku juga selesai. Semoga aku pantas pula mempersembahkan hidupku ini kepadaNya, tanpa rasa malu karena ketidaksempurnaanku, tanpa rasa khawatir karena ditolak, karena aku yakin, kasih dan pengampunanNya sangat sempurna dan indah.
(Terinspirasi oleh seorang sahabat... yang mengajarkanku tentang Determination-Decision-Devotion... Thanks to you)