Rabu, 09 Februari 2011

Renda Hidup

Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan retret pribadi. Dialog indah  antara aku (Lilik) dan AKU (hati  nuraniku)...
Sengaja ingin menarik  diri, dari kegiatan dan pikiran duniawi, untuk masuk ke alam rohani,  mencari jawaban atas berbagai hal kehidupan kepada AKU. Sambil merenda  aku mencari waktu untuk sendiri dan bersatu dengan AKU. Sementara  jari-jari menari dengan hakpen dan benang, aku bertanya kepada AKU...  “Sudah sejauh mana dan sampai dimana sebetulnya aku menjalani hidupku?”  dan AKU menjawab melalui pengalaman merenda taplak bulat berdiameter 2  meter.

Berpuluh tahun yang lalu aku belajar merenda dari almarhum ibuku.  Baru beberapa bulan lalu, keterampilan ini kuasah lagi ketika menginap  di rumah kakakku selama 3 hari. Hasil karya pertamaku adalah kantong HP  untuk anakku.

Taplak ini, adalah karya keduaku. Dorongan dari seorang  teman yang ngotot minta dibuatkan taplak yang berdiameter 2 meter  membuatku terpana... Kok bisa dia begitu percaya padaku? Padahal aku  dengan sembarangan bilang “Ya sudah nanti saya buatkan, harganya sejuta  mau?” Dengan ringan dia bilang “Mau mbak!!”... Wah ringan sekali  jawabannya, membuat aku bersemangat menyelesaikannya.Kepercayaannya ini  membuatku bertekad untuk membuatkannya. Kebetulan dia juga orangnya  sangat santai “Yang simple aja mbak...” Pas banget!, karena aku juga  ingin membuat motif yang jelas bisa aku buat. Sederhana tapi indah.

Sejak awal April aku mulai merendanya...Setelah memutuskan motif apa  yang aku buat, aku mulai membuat rantai pertama dan berniat  menyelesaikannya. AKU, memberikan jawaban melalui keputusan ini. Bahwa  dalam hidup kita harus membuat pilihan dan dengan kebulatan tekad  memulainya. Dengan perasaan yang menggelora aku memulai dan merasa exciting  setiap kali aku berhasil membuatnya, persis seperti pola yang aku  pilih.

Karena begitu banyak aktivitas lain yang harus aku kerjakan, hal  ini membuat aku sering tidak fokus. Kesana-kemari dan kembali merenda.  Hingga pada diameter 60 cm, aku membuat kesalahan fatal. Motifnya tidak  bisa dibuat melingkar dengan sempurna. Kenapa???...  Dengan sedih,  terpaksa aku melepas ikatan motif satu lingkaran dan memulainya lagi...  hasilnya... tetap salah!! Akhirnya aku berhenti dan membiarkan renda  terhenti prosesnya untuk beberapa hari. Baru setelahnya, aku melihat  kekeliruan fatal... salah hitung!! Harusnya dibagi 4 ternyata kubagi  3...AKU, mengingatkanku bahwa dalam hidup yang kupilih, aku bisa saja  melakukan kesalahan. Di saat itulah aku harus berhenti dulu, melihat dan  mencari dimana kesalahannya, baru memulainya lagi. Tanpa membuat  perbaikan, kesalahan akan menjadikan kesalahan baru yang nantinya dapat  membuat hasilnya semakin parah. Memulainya lagi, membutuhkan kesediaan  diri untuk diperbaiki. Pasti tidak semudah aku melepas ikatan renda dan  memulai lagi. Hanya dengan kerendahan hati kita bisa dan mampu mengakui  kesalahan dan mau membuat perbaikan... walaupun seringkali hal ini tidak  mudah dalam kehidupan kita.

Kesalahan merenda pada diameter 60 cm  membuat aku lebih berhati-hati.
Setiap membuat motif baru, aku dengan  teliti menghitung dan memperkirakan ketepatannya dengan sempurna. Karena  semakin besar diameternya, semakin besar pula lingkarannya. Kesalahan  di posisi ini pasti akan sangat menjengkelkan, karena perbaikannya  semakin banyak. Walaupun begitu, ternyata masih ada kesalahan-kesalahan  kecil yang terjadi. Dan itu kadang baru aku sadari kemudian, setelah  lingkaran semakin besar dan besar. Tapi kesalahan tersebut tidak  mengganggu motif yang aku buat. AKU, mengajarkanku untuk melihat  kehidupanku yang tidak sempurna. Walaupun sudah direncanakan dengan baik  dan diupayakan dengan segala kemampuan. Bagaimanapun aku harus menerima  ketidaksempurnaan ini dengan hati lapang. Setiap kesalahan kecil dalam  kehidupan kita, apabila disadari dan diakui, tidak akan terlalu menjadi  beban di hati. Kesalahan-kesalahan kecil justru akan mendekatkan kita  denganNya. Dan AKU mengajarkan aku untuk berdoa. Doa sederhana untuk  rendaku dan teman cantikku yang memberi kepercayaan padaku untuk  menciptakannya. “Semoga taplak ini, bisa mempercantik rumahnya, secantik  paras pemiliknya...”

Ketika diameter rendaku mencapai 170 cm, tantangan  terakhir adalah ketekunan dan kesabaran. Keinginan untuk segera  menyelesaikan, justru sering menimbulkan kesalahan-kesalahan kecil, yang  bila diabaikan akan menimbulkan dampak yang tak terduga. Maka aku  mencoba bersabar dan bertekun terus. Tetap waspada pada setiap rantai  yang kubuat. Menghitung kembali sebelum membuat langkah lebih jauh  lagi.AKU berbisik dengan gembira di hatiku. Aku mulai mengerti  sekarang... bahwa semakin banyak usia yang sudah diberikanNya padaku,  yang kuperlukan sekarang ini adalah kesabaran dan ketekukan. Tujuan  hidupku semakin dekat dari hari ke hari. Kesabaran dan ketekunan harus  dipertahankan supaya aku bisa menyelesaikan renda hidupku dengan baik.

Walaupun tidak sempurna...Taplak rendaku, sudah kukunci tepat 40 hari  sejak aku memulainya. Tinggal sedikit sentuhan, untuk membuatnya pantas  kupersembahkan. AKU, berbisik penuh kasih... ada saatnya, renda hidupku  juga selesai. Semoga aku pantas pula mempersembahkan hidupku ini  kepadaNya, tanpa rasa malu karena ketidaksempurnaanku, tanpa rasa  khawatir karena ditolak, karena aku yakin, kasih dan pengampunanNya  sangat sempurna dan indah.



 (Terinspirasi oleh seorang sahabat... yang mengajarkanku tentang  Determination-Decision-Devotion... Thanks to you)